Dedikasi Wartawan Senior Ulis Putnarubun, Membimbing Para Pewarta Muda Agar Tak ‘Salah Jalan’

Jakarta, infopers.com – Nama lengkapnya Ulis J Putnarubun. Posturnya tinggi besar dan tegap, penampilannya yang necis dan rapi bak seorang perwira tamatan Akademi Kepolisian. Di balik itu siapa sangka ternyata ia adalah seorang wartawan.

Empat puluh tahun lebih profesi sebagai insan pers dilakoninya usai menamatkan studi dari Sekolah Tinggi Publisistik atau STP angkatan 70 ketika masih berlokasi di bilangan Jakarta Pusat yang kini telah berubah nama menjadi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) yang terletak di kawasan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Pria asal Provinsi Maluku ini terbilang tak muda lagi sebagai seorang pewarta. Di usianya yang hampir genap 70 tahun, ia masih bersemangat untuk menunaikan ‘kontrol sosial’, utamanya soal kepolisian dalam hal ini lingkungan Polda Metro Jaya.

Jurnalis yang bekerja pada Surat Kabar Amunisi dengan inisial ‘Ulis JP’ di bawah setiap karya jurnalistik yang dibuatnya itu meski senior namun tak pelit berbagi ilmu kepada para pewarta muda.

Bukan hanya itu saja, dia juga kerap memberikan saran dan masukan ke orang-orang yang baru terjun sebagai jurnalis.

Semangat yang ia tanamkan kepada saya dan sejumlah rekan wartawan lain adalah hal yang positif. Tujuannya tak lain agar tidak berkecil hati meski hanya berada di media yang bukan arus utama (mainstream).

“Bahagia itu sangat sederhana, kita hanya perlu mensyukuri dengan nikmat yang telah Allah berikan. Kita tidak satu persepsi sebagai sosial kontrol, jika media kecil bersatu pasti ada solusinya,” papar Ulis dalam salah satu WhatsApp Grup yang dihuni para wartawan.

Suatu hari di Balai Wartawan Polda Metro Jaya, Ulis pernah tampak gusar ketika saya kesulitan karena tak mampu mendapatkan informasi akurat dari seorang narasumber.

Baca Juga  Timsel Bawaslu Papua Barat di Minta Perhatikan Putra Asli Papua

“Lo ke sana saja temui dia, bilang dari saya,” katanya kepada saya.

Atas wejangannya itu, saya lanjut bergegas menuju ke tempat yang diarahkannya tersebut. Alhasil, dengan mudah saya pun beres menyelesaikan urusan pemberitaan itu.

“Untung ada Om Ulis,” ucap saya dalam hati.

Meski berkategori senior dari sisi usia dan pengalamannya sebagai wartawan, dia juga tak pernah marah ketika saling bercanda dan melempar guyonan dengan sesama wartawan yang notabene lebih muda darinya.

Ia hanya menimpalinya dengan candaan balik.

“Waduh Om Tua pagi-pagi sudah ngacang. Om tua gimana kabarnya, lama enggak kelihatan,” ujar Frans Gultom, awak media Harian Internaltional Media.

“Bang Frans kalau tiga bulan enggak jadi, bisa dikembalikan. Ada garansinya tuh,” sahut Ulis.

Di masa senjanya kini, kami para juniornya pun berharap agar Om/Opa Ulis –begitu kami biasa menyapanya– tetap diberikan kesehatan dan panjang umur oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Sehat dan bahagia selalu ya Om Ulis…. (Gomes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *