Oleh: Syahril Rumluan (Direktur Eksekutif Goedef Institute)
Infoperes : Jendela Pembaca Intelektual
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah perairan mencapai 6,4 juta km², Indonesia mengemban urgensi pertahanan maritim yang absolut. Di tengah eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Laut China Selatan serta dinamisnya doktrin keamanan Indo Pasifik, modernisasi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan imperatif strategis.
Di bawah kepemimpinan Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, TNI Angkatan Laut (TNI AL) mengalami akselerasi transformasi yang signifikan. Melalui implementasi Naval Diplomacy (diplomasi angkatan laut) yang taktis, Laksamana Muhammad Ali berhasil memosisikan Indonesia sebagai kekuatan maritim yang diperhitungkan di tatanan regional maupun global.
Keberhasilan ini tidak hanya tecermin pada langkah akuisisi, tetapi juga pada bagaimana Indonesia kini menjadi magnet kemitraan strategis bagi kekuatan-kekuatan global.
Puncak manifestasi diplomasi pertahanan yang dilakukan oleh KASAL tercermin dalam keberhasilan penjajakan strategis dengan pemerintah Italia dan galangan kapal Fincantieri. Langkah monumental ini ditandai dengan kesepakatan perolehan Kapal Induk Ringan (Light Aircraft Carrier/Landing Helicopter Dock) ITS Giuseppe Garibaldi, yang diproyeksikan memperkuat jajaran armada TNI AL sebelum Hari Ulang Tahun (HUT) TNI pada 5 Oktober 2026.
Secara akademis dan operasional, akuisisi ini memberikan lompatan kapabilitas (capability leap) bagi Indonesia melalui beberapa parameter data teknis yang presisi. ITS Giuseppe Garibaldi memiliki bobot mati sekitar 13.850 ton (full load) dengan panjang mencapai 180,2 meter dan kecepatan maksimum mencapai 30 knots. Dimensi ini memberikan stabilitas tinggi untuk operasi di laut lepas (Blue Water Navy). Dari aspek efisiensi, mengacu pada data resmi Kementerian Pertahanan RI, kapal ini diperoleh melalui skema hibah dari Pemerintah Italia, sehingga alokasi anggaran domestik dapat difokuskan murni pada proses retrofit dan modernisasi sistem elektronika kapal.
Menariknya, keberhasilan Naval Diplomacy Laksamana Muhammad Ali dalam memodernisasi armada kini memicu efek riak (ripple effect) geopolitik di kawasan. Keberhasilan negosiasi dengan Italia serta posisi strategis Indonesia di selat-selat internasional (choke points) telah menarik minat besar dari poros kekuatan maritim dunia lainnya, khususnya Jerman dan Jepang, untuk mengajukan proposal kerja sama strategis baru dengan TNI AL.
Jerman, melalui industri pertahanan maritimnya yang maju (seperti ThyssenKrupp Marine Systems), mulai menjajaki penguatan kemitraan dalam teknologi kapal selam kelas mutakhir serta sistem sonar bawah air.
Berlin memandang Indonesia di bawah kepemimpinan KASAL saat ini sebagai mitra stabilizator yang andal di Indo Pasifik. Di sisi lain, Jepang juga secara agresif mengajukan peningkatan intensitas latihan bersama skala besar serta transfer teknologi keamanan maritim. Bagi Tokyo, penguatan TNI AL di bawah Laksamana Muhammad Ali adalah kunci untuk menjaga kebebasan navigasi (Free and Open Indo Pacific) dari dominasi kekuatan tunggal di Laut China Selatan.
Ketertarikan Jerman dan Jepang ini melengkapi desain besar (Grand Design) integrasi armada yang digagas oleh KASAL. Sebelumnya, Indonesia juga telah mengamankan kontrak senilai 1,18 bilyar Euro untuk pengadaan dua unit kapal perang jenis Pattugliatore Polivalente d’Altura (PPA) dari Fincantieri Italia, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Kesamaan pabrikan antara kapal induk Garibaldi dan armada fregat PPA membawa keuntungan strategis masif dalam aspek interoperabilitas sistem radar dan logistik terintegrasi.
Kombinasi kepemimpinan Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali juga menunjukkan komitmen tinggi pada kemandirian industri pertahanan nasional. Setiap negosiasi internasional, baik dengan Italia maupun penjajakan baru dengan Jerman dan Jepang, selalu menyertakan paket offset dan transfer teknologi (ToT) yang komprehensif, melibatkan BUMN seperti PT PAL Indonesia serta institusi akademis seperti Universitas Pertahanan.
Kepemimpinan Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali telah membuktikan bahwa modernisasi militer yang efektif lahir dari perpaduan analisis strategis yang tajam dan diplomasi internasional yang persuasif. Keberhasilan membawa kapal induk pertama dalam sejarah modern pertahanan Indonesia—didukung armada fregat mutakhir serta antrean kemitraan strategis dari negara besar seperti Jerman dan Jepang—bukan sekadar penambahan angka inventaris. Langkah ini adalah lompatan doktrinal yang mengubah postur pertahanan Indonesia dari Green Water Navy yang defensif menjadi kekuatan Blue Water Navy yang mampu memproyeksikan stabilitas, keamanan, dan kedaulatan nasional di panggung maritim dunia.
Editor: Hanan Fauzi






