R. Ir. Haidar Alwi MT : “Legacy Jokowi”

INFO’PERS

Foto : Istimewa

By: Haidar Alwi, Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi institut (HAC dan HAI)

 

Seekor Anjing bertanya kepada seekor Rusa:

Anjing : “Kenapa kamu selalu mendahuluiku?”.

Rusa : “Karena aku lari untuk diriku sendiri, sementara kamu lari untuk tuanmu”.

Jika anda tidak bisa menjadi Rusa untuk kebenaran, maka jangan menjadi Anjing untuk kejahatan.

Sebelum bicara tentang legacy Presiden Jokowi, maka kita terlebih dahulu menjajaki, mengetahui keinginan masyarakat indonesia tentang apakah masyarakat ingin Pak Jokowi berkuasa lagi, atau ingin legacy atau kebijakan Pak Jokowi dipertahankan?

Sebetulnya wacana penundaan pemilu maupun presiden tiga periode tidak bisa dilarang. Sebab, itu bagian dari demokrasi.
Namun tetap harus tunduk dan patuh pada konstitusi yang ada.

Wacana presiden 3 periode itu baru bisa terwujud kalau konstitusi itu diamendemen, khususnya pasal 7 mengenai periodisasi jabatan presiden. Apakah, MPR berwenang melakukan perubahan terhadap Undang-Undang Dasar? Tentu MPR berwenang.
Dasar hukumnya Apa? Dasar hukumnya dapat kita lihat dalam pasal 3 ayat (1) sampai (3) Undang-Undang Dasar 45,” .

Wacana jabatan presiden dapat diperpanjang menjadi 3 periode bisa diwujudkan melalui cara-cara konstitusional dengan mendorong amendemen UUD 1945, amendemen UUD 1945 bukanlah sesuatu yang haram untuk dilakukan, pasalnya masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa wacana presiden 3 periode itu bertentangan dengan konstitusi.

Karena negara ini adalah negara demokrasi, jangan sampai baru bicara tentang tataran wacana 3 periode lalu kita sudah ramai, “Padahal kalau kita lihat praktiknya sejarah mencatat bahwa republik kita sudah melakukan 4 kali amendemen konstitusi Undang-Undang Dasar 1945,”

Presiden Jokowi telah meletakkan hal – hal baik dalam demokrasi dan pembangunan bangsa yang mesti harus bisa dilanjutkan sampai akhir.

Terlalu banyak yang bisa diceritakan mengenai legacy Presiden Jokowi. Beliau pemimpin yang sederhana, simple, dan berani ambil resiko. Diantaranya pemindahan Ibukota negara, pendirian BPIP, langkah tegas memberantas terorisme  dan radikalisme, apresiasi terhadap anak anak muda, transformasi digital dan pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan, bandara, pelabuhan), “Hal itu dilakukan Jokowi di tengah goncangan besar tata dunia baik melalui perang global maupun transformasi teknologi, yang berdampak pada semua tatanan yang ada.

Presiden Jokowi sudah berkali-kali menolak wacana perpanjangan masa jabatan presiden dan penundaan pemilu.

Presiden Jokowi pernah menyatakan dorongan presiden 3 periode sama saja dengan menampar mukanya dan menjerumuskannya.

Presiden Jokowi juga dengan menyatakan tidak tertarik dengan wacana perpanjangan masa jabatan presiden dan menegaskan dirinya taat konstitusi.

Sekarang kita memiliki dilema jika wacana 3 periode tidak bisa diwujudkan, siapa pasangan capres-cawapres yang akan datang, apakah akan mengusung perubahan, atau menjadi penerus legacy pemerintah saat ini, pilihan tinggal dua yaitu menjadi penerus legacy Jokowi atau antitesa terhadap legacy Jokowi?

Kita sebagai bangsa Indonesia benar-benar harus waspada terhadap dinamika masyarakat yang terjadi di Indonesia, ada yang namanya social engineering atau rekayasa sosial kondisi yg bisa membuat masyarakat seketika berubah.

Ada sebuah strategi dalam rekayasa sosial yang dinamakan Psywar (Psychological Warfare) atau biasa disebut perang urat syaraf adalah suatu bentuk serangan propaganda yang dilancarkan dua atau lebih pihak yang saling bertentangan pendapat.

Psywar memanfaatkan sisi psikologis dan pemikiran lawan agar bisa dipecah konsentrasinya.

Psywar adalah sebuah strategi yang teramat jahat yang biasa digunakan Amerika Serikat untuk mendukung para pion-nya yang bisa dikendalikan biasanya Pejabat korup yang berani membungkam atau melawan kedaulatan rakyat.

Beruntung Jokowi maju menjadi presiden dikala teknologi informasi sudah maju sehingga masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh “hoax” yang sangat masif dan dukungan media mainstream yang dikendalikan oleh para Political mainstream.

Sekarang sedang disiapkan calon presiden boneka, dengan dinamika media mainstream menjadikan satu sosok calon presiden yang mana para sponsor telah dan sedang mempromosikan kandidat tersebut, walaupun pesta demokrasi masih dalam kurun waktu 1,5 tahun yang mana apabila kita lihat rekam jejaknya berafiliasi dengan AS.

Mereka sudah menyiapkan calon presiden “boneka” dan berbagai agenda AS di Indonesia.

1. Tahun 2009, Anies Baswedan mendampingi SBY untuk menerima penghargaan dari Boston Club. Wikileaks membocorkan. Sebelum ke AS, Kedutaan Besar AS di Jakarta mengirim pesan diplomatik ke CIA, Defense Intelligence Agency, National Security Council dan Menlu AS.

2. Apa isi pesan tersebut? Dalam file berkategori sensitive but unclassified (SBU) itu, Kedubes AS di Jakarta melaporkan tentang profil Anies Baswedan. “Teman AS,” mungkin tidak banyak orang tahu, apa itu Boston Club. Kalau anda mau riset lebih dalam lagi di google, anda akan tahu.

3. Boston Club adalah think tank pembaharuan AS dalam rangka New World Order Era, dibiayai konglomerasi Yahudi. Salah satunya Rotchild, mitra Hashim Djoyohadikusomo dan Carl Icahn, pemegang saham utama Freeport McMoran. Boston Club adalah club sosial yang paling bergengsi di AS.

4. Tidak mudah menjadi membernya. Hanya orang tertentu, dan paling elite di AS yang bisa jadi member. Mereka adalah para politisi, pengacara Top, pengusaha papan atas.

Akses Anies Baswedan ke Boston Club, tentu tidak datang begitu saja. Itu bukan karena koneksinya dengan elite politik.

5. Tetapi memang sudah dipersiapkan AS sejak lama. Ia adalah salah satu alumni dari program AFS (American Fields Service ) yaitu pertukaran pelajar antar bangsa dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat.

6. Tamat dari UGM, mendapat beasiswa Fulbright dari AMINEF untuk melanjutkan kuliah masternya dlm bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di University of Maryland, College Park (USA).
Kemudian mendapat beasiswa Gerald S. Maryanov Fellow untuk meraih gelar doktoralnya.

7. Artinya sejak SMA memang sudah qualified dalam program binaan antar bangsa AS.

Bulan April 2018, ABAS berkunjung ke AS sebagai pembicara pada acara Annual Global Conference 2018 yg dilaksanakan di Los Angeles.

8. The Global Conference merupakan pertemuan para pemimpin dan tokoh penting dari seluruh dunia untuk bersama-sama mencari solusi bersama terhadap permasalahan dan isu global seperti pasar finansial, industri, kesehatan, pemerintahan dan pendidikan melalui 150 diskusi panel.

9. Jadi Anies Baswedan itu anak emas Elite Politik AS. Tahun ini pengaruh AS semakin besar terhadap Indonesia. Itu tanda semakin akomodatif-nya Indonesia terhadap politisasi agama. Karena itu terkesan Pemerintah tidak bisa tegas kalau sudah menyangkut kelompok Islam, termasuk tidak bisa tegas terhadap Anies Baswedan.

10. Dari dulu AS menggunakan ARAB menyebarkan paham Wahabi ke seluruh dunia. Bertujuan memecah belah umat Islam dan sekaligus menjadi pressure terhadap Pemerintah yang bukan golden boy AS. Setelah perang dingin, bukan hanya Paham Wahabi, AS juga berada dibelakang Ikhwanul Muslimin, untuk tujuan sama.

11. Menciptakan radikalisme Islam untuk menggoyang pemerintah yang tidak bisa menerima agenda AS. Lihatlah bagaimana petinggi PKS terbang ke Washington bertemu dengan elite politik AS untuk meminta dukungan dari AS menekan China dalam kasus Muslim Uighur.

12. Makanya kalau sekarang setiap pembahasan partai tentang calon Presiden dan Wapres maka selalu nama Anies disebut.
Itu bagian dari agenda orang yang ada di Boston club untuk menanamkan pengaruh dan hegemoni AS di seluruh dunia.

13. Bagi para patron Islam menganggap ini adalah era kebangkitan umat. Niat menjadikan Anies Baswedan sebagai Presiden/Wapres 2024, untuk melancarkan agenda mereka mengubah UUD 45 yang ber-syariah. Namun mereka lupa, ketika rezim pro AS berkuasa, yang pertama kali disikat radikalisme Islam itu sendiri.

14. Mengapa AS sangat paham radikalisme? , dia creatornya dan itu diperlukan AS untuk mencapai tujuannya, bukan untuk menjalankannya.

Lihat fakta sejarah. Soeharto menjatuhkan Soekarno berkat dukungan Islam, namun setelah Soeharto berkuasa, gerakan Islam dibungkam secara sistematis. Dalam kandang yang dinamakan PPP

15. Lihatlah fakta Turki, Erdogan yang Ikhwanul Muslimin berhasil mengalahkan partai sekular, namun setelah dia berkuasa, pendukung militannya lebih dulu ditangkapi lewat kudeta direkayasa. Ribuan ulama Ikhwanul Muslimin ditangkap yang lari keluar negeri, diburu.

16. Muhamad Morsi yang Ikhwanul Muslimin, berhasil menang pemilu menjatuhkan Mubarak, juga akhirnya dijatuhkan oleh AS lewat kudeta Militer.

Upaya mempersiapkan pemimpin boneka selanjutnya ini juga akan melibatkan kaum intelektual atau akademisi yang lemah mentalnya.

Mereka diminta untuk memberi stempel bagus pada sang calon yang sudah mulai menggelembung namanya berkat rekayasa pemberitaan media massa dan hasil survey yang telah dikeluarkan sebelumnya.

Momen pemilu 2024 mendatang yang akan melahirkan pemimpin baru bangsa Indonesia menjadi ajang adu kekuatan untuk memenangkan calon-calon yang menjadi jagoannya.

Kelompok para dalang kini terlihat sudah mulai mengelus-elus  “putra mahkotanya”.
Mereka tidak ingin situasi politik dan kenyamanan yang dirasakannya selama ini berlalu begitu saja karena itu harus dijaga dan dibela.

Kelompok ini terlihat sudah begitu matang mempersiapkan segala-galanya.

Sekarang kita menunggu arahan Presiden Jokowi tentang siapa calon presiden yg bisa meneruskan kerja-kerja yang belum terselesaikan, untuk bisa menjaga dan meneruskan legacy di 2024 nanti.

Negara Indonesia membutuhkan sosok untuk meneruskan kerja-kerja yang belum terselesaikan.

Atau kita mendorong amandemen agar supaya MPR melakukan perubahan terhadap Undang Undang Dasar terkait pasal 7 mengenai periodisasi jabatan presiden.

Kita harus memperjuangkan rusa2 yg mewakili kebenaran dan melawan antitesa yg mewakili kejahatan. (**)

Redaksi Media: IPRI/ www.infopers.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *