SEMIFINAL MAROKO-PRANCIS. SPORTIVITAS “COLONIALISM”.
DR MM Ardy Mbalembout SH MH CLA AIIArb selaku Tokoh Politik Partai Demokrat dan juga Menjabat Ketua Umum DPP TEGAS (Taruna Generasi Bangsa) Berpendapat dan Menganalisa PIALA DUNIA 2022. Saat diwawancara Media Mengarakan : Maroko memperoleh kemerdekaan politiknya dari Prancis pada tahun 1956 setelah serangkaian perjuangan politik dan bersenjata. Kepergian Prancis diikuti oleh gelombang imigrasi dari Maroko ke Prancis untuk menutupi kekurangan tenaga laki-laki dalam ekonomi Prancis yang sedang booming, terutama di sektor industri dan pertanian. Prancis adalah rumah bagi komunitas Maroko yang besar, banyak di antaranya memiliki kewarganegaraan ganda. Torterat seorang pebisnis perempuan Prancis-Maroko mendirikan bisnisnya sendiri dan sekarang bekerja sebagai konselor investasi di Maroko. Kata Torterat, “Maroko adalah surga bagi Prancis”.
Di sebuah kafe di Beirut tempat para penggemar Prancis berkumpul untuk menonton pertandingan, penggemar Maroko Sanaa Kassemi menangis saat para pemain Prancis yang menang merayakannya, tetapi dia mengibarkan bendera Maroko di udara. “Saya memiliki paspor Prancis tetapi saya asli Maroko. Itulah hal terpenting yang saya rasakan saat ini,” katanya. Di tempat lain di Lebanon, pengungsi Palestina Ahmad Iskandar mengatakan dia merasa sangat bangga bahwa tim dengan akar Arab dan Islam telah melangkah sejauh ini. “Kami merasa terhormat bahwa mereka mencapai semifinal,” katanya.
Di pantai Laut Merah Mesir, bankir Ahmed Zaki, 38, mengatakan Maroko gagal memanfaatkan peluang mereka. “Mereka pantas kalah, tapi dengan kehormatan,” katanya. Di Arab Saudi, Fahad al-Dawsari mengatakan hal itu akan menginspirasi orang-orang di wilayah tersebut untuk bermimpi bahwa suatu hari mereka mungkin mencapai final. “Apa yang dilakukan Maroko akan menyemangati timnas Arab,” tambahnya.
Baca Juga Klarifikasi pemberitaan Bupati Madina “Monopoli Pupuk Organik Tidak SNI” JAKARTA-Suarapancasila ID-Dapat kami jelaskan bahwa berita tersebut terlalu tendensius dan merupakan pemberitaan yang menyesatkan karena tidak secara utuh menginformasikan konteks acara dimana Bupati Madina menyampaikan ajakan untuk menggunakan pupuk PT. Basimbah Tani Rantau Prapat. Bahwa Bupati Madina mengundang seluruh Koperasi Plasma Sawit sebagai salah satu entitas bisnis/usaha yang turut berkontribusi dalam peningkatan perekonomian Masyarakat dalam rangka silaturahmi sebagaimana lazimnya Bupati melakukan pertemuan dengan elemen masyarakat lainnya. Silaturahmi dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 September 2025 di pendopo Rumah Dinas Bupati Mandailing Natal. Pada acara tersebut, Bupati Mandailing Natal menyampaikan beberapa pesan penting antara lain: Yang pertama, dalam rangka menjaga kondusifitas daerah di Bumi Mandailing Natal pasca terjadinya demo mahasiswa yang berujung ricuh di beberapa tempat di tanah air, Bupati menyampaikan pesan dari Mendagri kepada Masyarakat terutama anggota koperasi melalui ketua atau pengurus yang hadir, “untuk menjaga kondusifitas di Kabupaten Mandailing Natal yang hingga hari ini masih tetap terjaga dan terpelihara dengan baik.” Kedua, dalam kaitan Pembangunan sawit berkelanjutan secara khusus pada kesempatan tersebut Bupati menyampaikan oleh-oleh dari Jakarta yang didapat dari pertemuan dengan Kepala BPD PKS (Bapak Eddy Abdurrahman) yang sangat bermanfaat bagi Pengurus Koperasi Plasma dan seluruh anggota yaitu: Agar para Pengurus Koperasi dapat menyebarluaskan informasi tentang program beasiswa bagi anak-anak pelaku perkebunan sawit, sehingga peluang ini dapat dimanfaatkan lebih besar pada tahun-tahun mendatang. Hal ini mengingat bahwa tahun ini siswa yang lulus dan mendapatkan beasiswa sawit hanya 10 (sepuluh) orang. Adanya program capacity building bagi para pelaku perkebunan sawit yang akan sangat bermanfaat bagi peningkatan pengetahuan dalam pengelolaan perkebunan sawit. Untuk membantu produktifitas perkebunan sawit Bupati juga mengajak seluruh peserta untuk dapat memanfaatkan program bantuan sarana dan prasarana bagi Perkebunan Sawit. Program selanjutnya adalah adanya bantuan peremajaan sawit rakyat (PSR), untuk tanaman sawit yang sudah tidak produktif berusia diatas 25 (dua puluh lima) tahun. Ketiga, pada acara tanya jawab Bupati yang didampingi Sekda, Kadis Koperasi UKM, Kadis PMPTSP, Kadis Ketahanan Pangan sekaligus Plt. Kadis Pertanian yang hadir menginventarisir permasalahan yang dihadapi oleh Koperasi Plasma. Bupati pada kesempatan dialog dimaksud, yang baru saja melakukan kunjungan bersama beberapa OPD ke Kebun Sawit milik H. Suyono sahabat lama Bupati Madina di Rantau Prapat, menyampaikan informasi hasil penggunaan pupuk organik yang diproduksi oleh PT.Basimbah Tani Syahdilata dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi buah sawit dengan baik. Selanjutnya, Bupati menginformasikan bahwa pupuk ini telah banyak yang menggunakannya di Madina, dan bila Bapak-bapak berminat dapat menghubungi langsung perusahaan yang bersangkutan. Dari kronologi pertemuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa berita terkait Monopoli Pupuk Organik tidak SNI, adalah tidak benar dan tendensius karena informasi penggunaan pupuk Haji Suyono yang diproduksi PT. Basimbah Tani dengan SNI 7763:2018 muncul pada saat dialog dan bukan merupakan acara pokok dalam pertemuan dimaksud.
Penggemar Afrika juga menyuarakan kebanggaan atas prestasi Maroko. “Kami angkat topi untuk mereka atas penampilan brilian ini,” kata Arsene Boua, yang menonton pertandingan bersama teman-temannya di bar Abidjan. Di ibu kota Kamerun, Yaounde, pencuci mobil Michael Fogang mengaku senang meski kalah. “Saya tidak kecewa sama sekali. Maroko berusaha keras,” katanya di bar tempat dia menonton pertandingan. Di negara-negara Afrika Utara lainnya, yang secara budaya dekat dengan Maroko, kesuksesan mereka sangat terasa. “Terima kasih telah membuat kami bermimpi,” kata Lamia Mssedi, seorang wanita yang menonton pertandingan di Tunis.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang berada di stadion untuk pertandingan tersebut, memimpin penghormatan kepada tim Maroko yang kalah. “Kepada teman-teman Maroko kami: selamat atas perjalanan indah ini. Anda membuat sejarah sepak bola,” cuitnya. Prancis, mantan penguasa kolonial Maroko, adalah rumah bagi ratusan ribu orang asal Maroko dan beberapa bendera Afrika Utara dipajang di Champs Elysees di Paris setelah pertandingan. “Saya sedih sekaligus bangga. Saya bangga dengan perjalanan yang kami lakukan dan sedih karena berhenti di sini,” kata Thomas Bregas, 15, mengenakan bendera Maroko, di Champs Elysees. Perdana Menteri Maroko Aziz Akhannouch memuji tim yang disebutnya pahlawan yang membawa kegembiraan bagi warga Maroko dan membuat nama negara itu “bergaung di setiap lidah selama Piala Dunia”, saat diwawancara Media di Menteng Jakpus . (red.bar)
Post Views: 1,327