Tanpa Bantuan Pemerintah, Gerakan Sadar Budaya Sukses Gelar Peringatan Setahun

Peringati Satu Tahun GSB

Berita550 Views

INFO  PERS

JAKARTA SELATAN — Gerakan Sadar Budaya (GSB) sukses menggelar peringatan satu tahun sekaligus rangkaian kegiatan Hari Budaya Nasional pada 23–25 Oktober 2026 di Lapangan Kostrad, Petukangan Utara, Jakarta Selatan. Mengusung tema “Merajut Kesadaran Berbudaya untuk Harmoni Bangsa”, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus mendorong kemandirian para pelaku kebudayaan di Indonesia.

Ketua Umum sekaligus penggagas Gerakan Sadar Budaya, R. Panca Nur, menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas kelancaran penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai, peringatan satu tahun GSB bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang bagi para pelaku budaya untuk terlibat langsung dalam upaya menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara.

“Alhamdulillah, kami mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT karena acara ini dapat berlangsung dengan lancar dan khidmat. Sejak awal perencanaan, saya memang ingin peringatan satu tahun ini lebih menyentuh langsung para pelaku budaya, karena pada dasarnya saya juga merupakan bagian dari pelaku budaya,” ujar R. Panca Nur.

Menurutnya, gerakan sadar budaya ini perlu dibangun melalui keterlibatan nyata masyarakat, komunitas, seniman, budayawan, dan berbagai unsur yang selama ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi.

Tegaskan Kemandirian Penyelenggaraan Kegiatan Budaya

Dalam kesempatan tersebut, awak media menanyakan apakah penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan berbagai agenda kebudayaan itu memperoleh bantuan pendanaan dari pemerintah.

R. Panca Nur menegaskan bahwa kegiatan peringatan satu tahun GSB kali ini diselenggarakan tanpa bantuan dana pemerintah. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya menunjukkan bahwa Gerakan Sadar Budaya dapat tetap berjalan melalui kemandirian, komitmen, dan kerja sama para pelakunya.
Melalui ruang kolaborasi yang terbuka lebar,

“Enggak ada, karena memang di tahun pertama ini kita ingin menunjukkan kepada pelaku-pelaku budaya lainnya bahwa penyelenggaraan acara kebudayaan jangan hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Apalagi kalau semuanya berpatokan pada pemerintah, sementara kita tahu bantuan itu sangat terbatas,” ungkapnya.

Baca Juga  Rakernas KAMBERIN 2026 Memperkuat Sinergi Merumuskan Langkah Inovatif Menegaskan Komitmen Bersama

Ia menjelaskan, kemandirian bukan berarti menutup pintu kerja sama dengan pemerintah. Sebaliknya, GSB tetap membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, sepanjang kerja sama tersebut dibangun berdasarkan kebutuhan, tujuan, dan kepentingan pelestarian kebudayaan.

“Bukan berarti kami menolak atau tidak mau bekerja sama dengan pemerintah. Sejak awal, kami di GSB berkomitmen untuk bersikap presisi kepada siapa pun. Kami bisa menjadi mitra strategis sekaligus mitra kritis, tergantung pada konteksnya,” kata R. Panca Nur.

Terbuka Bekerja Sama, Tetap Kritis dan Independen

R. Panca Nur mencontohkan, pada kegiatan yang diselenggarakan tahun sebelumnya di kawasan Kota Tua, GSB mendapatkan dukungan dari berbagai elemen pemerintahan.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa hubungan antara komunitas kebudayaan dan pemerintah dapat dibangun melalui kolaborasi yang saling mendukung. Namun, keberlangsungan gerakan sadar budaya tidak semestinya sepenuhnya bergantung pada ada atau tidaknya bantuan dari pemerintah.
Ia mengatakan, GSB telah membangun sistem kerja mandiri yang memungkinkan berbagai kegiatan kebudayaan tetap dilaksanakan sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia.

“Karena ada atau tidak ada bantuan, kami sudah punya sistem kerja kemandirian yang cukup komprehensif. Sejak dahulu saya juga sering menyelenggarakan kegiatan dengan sistem mandiri,” ujarnya.

Bagi R. Panca Nur, kemandirian merupakan salah satu nilai mendasar dalam kebudayaan. Kesadaran untuk menjaga tradisi dan mengembangkan kebudayaan, menurutnya, harus tumbuh dari kemauan masyarakat sendiri, bukan semata-mata karena tersedianya dukungan anggaran.

‘ Kebudayaan Harus Tetap Produktif

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa keberlanjutan kegiatan kebudayaan tidak boleh terhenti hanya karena keterbatasan pendanaan. Para pelaku budaya perlu terus mencari cara untuk berkarya, membangun kolaborasi, dan menghadirkan kegiatan yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Baca Juga  POMTN Tegas Kawal Komisi 8 Persen: Bukan Sekadar Aturan, Harus Jadi Perlindungan Nyata bagi Ojol

Semangat tersebut sejalan dengan tema peringatan satu tahun GSB, yakni “Merajut Kesadaran Berbudaya untuk Harmoni Bangsa”. Kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang dapat mempererat persaudaraan, menumbuhkan penghormatan terhadap keberagaman, serta memperkuat identitas bangsa.
Rangkaian kegiatan Hari Budaya Nasional yang dipusatkan di Lapangan Kostrad, Petukangan Utara, Jakarta Selatan, turut menjadi ruang perjumpaan bagi masyarakat dan para pelaku kebudayaan.

Agenda yang dirancang dalam kegiatan tersebut mencakup pertunjukan budaya Nusantara, seni bela diri tradisional Betawi, diskusi publik, pameran pusaka Jayakarta dan Nusantara, bazar UMKM, pengobatan tradisional, serta kegiatan kebudayaan lainnya.

Melalui kegiatan semacam ini, GSB diharapkan dapat terus memperluas ruang apresiasi terhadap seni dan tradisi, sekaligus membuka kesempatan bagi para pelaku budaya untuk menunjukkan karya dan memperkenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat luas.

‘ Membangun Gerakan Sadar Budaya yang Berkelanjutan

Peringatan satu tahun GSB menjadi titik penting untuk memperkuat komitmen bahwa pelestarian kebudayaan membutuhkan konsistensi, partisipasi masyarakat, dan kemandirian dalam penyelenggaraan kegiatan.

R. Panca Nur berharap gerakan tersebut dapat terus produktif dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, sekaligus menjadi mitra strategis dan mitra kritis bagi berbagai pihak, termasuk pemerintah, sesuai dengan konteks dan kebutuhan.

Menurutnya, budaya tidak cukup hanya dibicarakan atau ditampilkan dalam acara seremonial. Kebudayaan harus terus dihidupkan melalui praktik, kegiatan, pendidikan, regenerasi, serta keterlibatan langsung masyarakat.

“Jadi, ada atau tidak ada bantuan, kami tetap produktif untuk melestarikan, mengembangkan, dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kebudayaan,” tutup R. Panca Nur.

Pernyataan tersebut menegaskan arah Gerakan Sadar Budaya dalam membangun gerakan kebudayaan yang mandiri, terbuka terhadap kolaborasi, dan konsisten menjalankan perannya di tengah masyarakat.

Baca Juga  Ketum Sangha Mahayana Indonesia sampaikan Terima Kasih kepada Dirjen Bimas Buddha

Bagi GSB, merajut kesadaran berbudaya berarti memastikan bahwa pelestarian tradisi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu, tetapi menjadi gerakan bersama yang tumbuh dari kesadaran masyarakat demi terwujudnya harmoni bangsa.

Redaksi Media : IPRI/ www.InfoPers.com/Ist

Related Posts

Baca Juga :