REFLEKSI MANDAT PENDIDIKAN: BELAJAR YANG MENYENANGKAN DI MASA PANDEMI COVID-19

Oleh: Roedy Silitonga (Dosen Agama Kristen dan Teologi, Universitas Pelita Harapan)

roedysilitonga17@gmail.com

Selamat datang para mahasiswa yang budiman, generasi harapan bangsa di kampus masing-masing. Selamat berbahagia para orang tua yang baik hati dan sudah menghantarkan para mahasiswa ke gerbang masa depannya. Terimalah dan bersyukurlah, karena TUHAN membawa mereka ke arena pembentukan diri secara mandiri, bersama, terbuka dan beradab. Dan selamat berjuang para dosen dan pendidik untuk menggembalakan dan memimpin setiap mahasiswa ke padang rumput yang hijau dan air jernih agar mereka menjadi pemimpin bangsa dan negara yang terampil dan berkarakter yang saleh. Penulis menguraikan refleksi mandat pendidikan ini secara praktis sebagai salah satu upaya meningkatkan proses belajar secara daring dan virtual yang menyenangkan di masa pandemi Covid-19 agar terwujud transformasi yang menebus peradaban di negeri ini.

PENDAHULUAN

Mengapa belajar itu menyenangkan? Karena setiap orang dapat menikmati pengetahuan sebagai pengalaman yang menarik bagi dirinya dalam konteks apapun termasuk di masa pandemi Covid-19. Memang tidak mudah menjadikan sebuah objek pembelajaran agar menyenangkan diri bagi pembelajar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebab itu diperlukan sebuah daya kreativitas yang relevan dalam konteks kekinian dengan menggunakan berbagai media yang tersedia dan platform yang ada. Peluang yang perlu dibangun dan dikembangkan melalui proses belajar di kelas, di luar kelas dan secara daring ialah berkolaborasi dengan para pihak yang mumpuni menggunakan berbagai media dan platform kekinian.

Belajar itu menyenangkan karena ada tantangan yang dapat menjadi pemicu untuk menemukan solusi terbaik dan relevan bagi pembelajar, baik bagi dosen dan mahasiswa. Ketika solusi itu ditampilkan dalam proses belajar di kelas maupun secara daring, ada sukacita yang tersimpan di dalam pikiran sebagai energi untuk terus-menerus meningkatkan pembelajaran di masa yang akan datang. Misalnya, bagaimana mahasiswa menyelesaikan problem penulisan karya ilmiah secara cepat dan tepat sehingga tidak terjadi suatu tindakan plagiarisme. Saat ditemukannya cara yang efektif bagi pembelajar agar tidak terjebak pada praktik plagiarisme, itu juga merupakan saat yangberkesan bagi mahasiswa untuk memperbaiki diri dan karyanya sehingga menghasilkan penulisan karya ilmiah yang berkualitas dan bermanfaat bagi dirinya dan sesama rekan mahasiswa lainnya. Kesan yang dialami oleh mahasiswa tersebut dalam menyelesaikan problem akademis dan karakter telah mendorong dirinya untuk menampilkan potensinya.

Dengan jalan seperti itu, mahasiswa akan berusaha untuk lebih maju dan lebih baik pada aktivitas belajar berikutnya. Hasil yang diharapkan dari proses pembelajaran seperti itu ialah karya-karya yang produktif, jujur serta terbuka untuk pembelajaran berikutnya. Bagaimana mencapai proses belajar yang menyenangkan itu dalam konteks pandemi Covid-19 melalui perkuliahan secara daring dan virtual?

PEMBAHASAN

Kondisi dan Posisi Belajar di Masa Pandemi

Ada hal yang penting yang perlu direfleksikan agar belajar itu menyenangkan para pembelajar. Umumnya yang menjadi rujukan atau alasan dari seseorang mau belajar di perguruan tinggi yang dipilihnya beradasarkan pada akreditasi dan kesesuaian program studi yang tersedia. Namun keberadaan perguruan tinggi belum dapat memberikan kepastian bagi masa depan mahasiswa itu akan berhasil seperti yang diharapkan oleh perguruan tinggi tersebut. Karena hal esensial dalam proses belajar ialah komitmen, kemauan dan kualitas diri dari setiap mahasiswa untuk sungguh-sungguh belajar dengan baik dan benar. Artinya bukan hanya dimana mahasiswa itu kuliah, tetapi apakah perkuliahan yang akan diikutinya itu akan membentuk dirinya memiliki pengetahuan yang benar, iman yang sejati dan karakter yang saleh? Apakah selama kuliah, para mahasiswa tetap menghormati orang tua, menghargai dosennya, memiliki sahabat-sahabat yang kreatif dan memiliki sikap yang jujur dan tulus? Dan apakah para mahasiswa di bangku kuliah akan benar-benar jujur sebagai murid, tekun mengerjakan tugas-tugas kuliah, dan siap berkarya untuk kepentingan Tuhan, keluarga, rakyat dan bangsa? Bagaimanakah profesionalitas dari dosen di kampus tersebut baik secara intelektualitasnya dan keterampilannya serta karakternya dalam mengapresiasi dan membangun potensi kreatif dari setiap mahasiswa yang ada di kelasnya? Pertanyaan-pertanyaan reflektif ini sebagai upaya memberikan peluang untuk membentuk proses belajar yang menyenangkan dan relevan dalam konteks kekinian.

Baca Juga  Diduga Ada Peradangangan Manusia di Timur Tengah, KCBI Laporkan Bandar PMI Ilegal ke Asosiasi Ketenagakerjaan

Di pihak lain kita harus mengetahui kondisi dan posisi dari pembelajar itu, terlebih khusus para mahasiswa di setiap kampusnya dan di setiap program studi dimana mereka sedang belajar. Sebagai kaum milenial, yang disebut juga generasi Z (Alfa), generasi digital, mahasiswa berada dalam era digital dimana berbagai pengetahuan itu limpah, mudah ditemukan, terbuka, dan beraneka ragam. Jika demikian, apakah yang mereka butuhkan di kampus? Tentulah bukan hanya untuk mendapatkan gelar kesarjanaan atau dokumen kelulusan untuk dapat dijadikan syarat utama dalam berkarya di masa yang akan datang. Terlebih lagi di dalam konteks pandemi Covid-19, proses belajar secara daring dan virtual menjadi kebutuhan mendasar yang difasilitasi perguruan tinggi dengan Sistem Pengelolaan Belajar melalui platform yang sudah dipersiapkan dengan baik dan tepat.

Hal esensial yang perlu digalitemukan agar belajar itu menyenangkan ialah pengenalan akan dirinya sebagai seorang murid. Karena itu dibutuhkan model dan pendekatan yang relevan dalam pengelolaan belajar di kelas cara tatap muka atau virtual dengan bijaksana. Dalam proses belajar yang menyenangkan itu sangat dibutuhkan hikmat dalam menyajikan berbagai ilmu pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang melibatkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dari setiap mahasiswa. Apakah kampus dimana mahasiswa tersebut dibentuk dan dilatih dengan sungguh-sungguh telah membimbing mereka sebagai manusia yang mandiri, berjuang dalam kebenaran serta bersedia berkorban bagi kepentingan sesama? Apakah perguruan tinggi itu hanya sekedar meluluskan mahasiswa yang hanya hidup untuk kepentingannya sendiri, kelompoknya atau golongannya? Penulis mengajak pembaca untuk menguji dan mengevaluasi, apakah setelah para mahasiswa menjadi sarjana, mereka sungguh-sungguh kompeten di bidangnya, mereka sungguh-sungguh berkualitas membangun peradaban di dalam masyarakat, bangsa, negara dan apakah mereka sungguh-sungguh memuliakan TUHAN melalui kesarjanaannya itu? Tunggulah, lihatlah dan saksikanlah generasi milenial ini bagi masa depan bangsa dan negara.

Arah dari Belajar yang Menyenangkan

Arah dari belajar yang menyenangkan di masa pandemi Covid-19 seharusnya sudah ditetapkan sejak awal. Hal ini penting agar belajar yang menyenangkan itu tidak menjadi sebuah hiburan belaka bagi mahasiswa sekedar mengobati kejenuhan dalam belajar secara daring atau virtual. Itu layaknya seperti orang-orang yang sedang menyaksikan tayangan film atau permainan games saja. Arah yang dicapai setiap mahasiswa yaitu semakin bijaksana dalam berkarya di masa depan untuk dirinya dan sesamanya. Dengan demikian, orang tua dan pendidik sudah sewajarnya memberikan arah yang benar, yang adil dan yang suci kepada mahasiswa agar mereka ini di masa depan memajukan bangsanya dan peradaban kemanusiaan serta sepenuhnya bertanggung jawab untuk mengelola bumi dengan baik dan benar bagi kepentingan sesama di negeri.

Adalah tidak baik dan tidak tepat membiarkan mereka berjalan sendirian dengan bebas tanpa arah. Karena mereka masih sangat membutuhkan bimbingan yang tegas dan jelas serta penuh kasih sayang yang mengarahkan mereka agar tidak melupakan dan mengabaikan kebenaran, keadilan dan kesucian dalam proses belajar di kampusnya. Khususnya di dalam konteks kekinian pada masa pandemi Covid-19 di mana proses pembelajaran dengan cara daring atau secara virtual membutuhkan pendampingan dari dosen sebagai pendidik dan gembala yang berkarakter saleh. Jika tidak cermat, hati-hati dan dan waspada dalam proses pembelajaran itu dengan koridor dan jalur yang tepat, maka belajar menjadi tidak menyenangkan. Dampaknya ialah arah belajar meleset, tidak tahan uji dan hanya menghasilkan buah yang tidak bermanfaat dalam membangun peradaban bangsa. Tanggung jawab akademis dan karakter dari setiap dosen sebagai gembala yang menuntun setiap mahasiswa ke arah visi dan misi yang telah ditetapkan setiap perguruan tinggi secara terbuka, utuh dan kontekstual.

Baca Juga  Diduga Lakukan Ilegal Mining, DPN LKPHI Desak Pemerintah Cabut Izin PT. Fatwa Bumi Sejahtera

Belajar yang Kreatif dan Fleksibel

Karena belajar itu menyenangkan maka penting memberikan ruang untuk kreatif dan fleksibel dalam proses pembelajaran baik di ruang kelas, di luar kelas maupun di ruang virtual. Memang ada kesulitan tertentu di dalam pembelajaran di ruang virtual secara daring namun itu juga merupakan peluang untuk setiap dosen dan mahasiswa supaya lebih kreatif dan fleksibel serta berani melakukan terobosan untuk meningkatkan kualitas belajar yang kekinian. Dengan demikian belajar tidak hanya mentransfer pengetahuan dan keterampilan dari dosen ke mahasiswa tetapi yang lebih diutamakan ialah menggalitemukan dan membangun potensi dari setiap mahasiswa untuk produktif memajukan diri dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dengan tepat sehingga menjadi pengapaman belajar yang tak terlupakan.

Iklim belajar di tengah-tengah pandemi Covid-19 ini merupakan peluang yang baik untuk meningkatkan kualitas pengetahuan yang benar dan keterampilan yang yang relevan dalam konteks kebutuhan hidup saat ini. Sejalan dengan itu diperlukan daya kreativitas yang fleksibel dan menarik hati bagi setiap mahasiswa pada setiap materi kuliah dan menerapkan dengan terampil dari setiap topik pembelajaran. Ada tiga hal penting yang perlu dicermati oleh dosen dan mahasiswa untuk memanfaatkan pembelajaran daring secara kreatif dan fleksibel yaitu:

  • Membangun relasi yang terbuka dan konstruktif dalam setiap aktivitas secara synchronous (belajar tatap muka melalui media sosial dan platform) dan asynchronous (belajar mandiri dengan berbagai aktivitas yang sinkron dengan topik materi kuliah) sehingga dosen dan mahasiswa memiliki keterlibatan dalam seluruh aspek pembelajaran seperti pengetahuan dan pengalaman serta keterampilan yang relavan pada konteks kekinian;
  • Mengoptimalkan berbagai media yang ada, baik media cetak, media elektronik dan media sosial secara optimal dan tepat agar pesan dan tujuan dari belajar tercapai secara holistik dan komprehensif. Dalam proses pembelajaran tersebut tidak hanya penyampaian pengajaran dengan kata-kata dan contoh-contoh penyelesaian isu-isu yang ada pada konteks kekinian tetapi juga memberikan ruang yang luas untuk setiap pembelajar mengekspresikan pemikiran dan keterampilannya di ruang belajar yang tersedia. Misalnya ada topik yang perlu dibahas pada konteks kekinian yang dikaitkan dengan isu yang sedang trend untuk dielaborasi oleh mahasiswa di dalam kelas secara individu dan kelompok;
  • Memberikan apresiasi dan dorongan untuk setiap dosen dan mahasiswa yang yang kreatif dan partisipatif di dalam proses belajar pada sebuah kelas di setiap topik pembelajaran agar terbentuk sebuah suasana belajar yang menarik dan dan menggugah potensi yang dimiliki oleh setiap mahasiswa dan juga dosen.
  • Sejalan dengan itu diperlukan juga kemitraan dengan para pihak untuk meningkatkan proses belajar secara daring dalam konteks pandemi dengan pihak orang tua dan juga pihak wirausahawan yang potensial. Dengan cara demikian maka mahasiswa dan dosen tidak hanya tahu dan mengerti materi perkuliahan dengan baik dan benar tetapi juga telah dipersiapkan untuk berkarya di dalam keluarga dan masyarakat, bahkan menjadi wirausahawan. Posisi kemitraan antara dosen dan mahasiswa serta para pihak perlu ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya dengan tujuan mencerdaskan anak bangsa di negeri ini. Para pihak membuka diri untuk memahami kebutuhan dari generasi milenial ini agar daya kreativitas yang sudah tersedia tersebut dapat disalurkan dan dioptimalkan di dalam meningkatkan produktivitas dari sebuah wirausaha.
Baca Juga  Berita Viral MADIUN - JATIM (Muncul Sosok Cendekiawan Sensasional) "SONI FAHRURI" Caleg DPR.RI (PUSAT) Dapil Jatim VIII No. Urut 9

Peluang Belajar yang Menyenangkan

Peluang belajar menyenangkan dalam kondisi pandemi Covid-19 secara virtual atau daring akan dapat terlaksana secara baik dengan memperhatikan beberapa hal penting, antara lain:

  • Perlunya pembelajaran interaktif yang melibatkan setiap mahasiswa pada sebuah kelas melalui pertemuan virtual dan pertemuan asynchronous dengan menggunakan games, tanya jawab berkaitan dengan isu kekinian, presentasi dari beberapa mahasiswa dalam suatu kelompok;
  • Pemanfaatan waktu optimal dengan pertemuan yang berkualitas dengan durasi antara 30 sampai 60 menit untuk setiap pertemuan virtual melalui platform yang tersedia. Selanjutnya penggunaan waktu untuk asynchronous melalui platform yang berbeda sehingga ada momen perenungan mandiri atau kelompok yang dituliskan sebagai refleksi akademis;
  • Setiap mahasiswa atau per kelompok memberikan refleksi yang berkaitan dengan topik yang diskusikan pada pertemuan virtual. Refleksi tersebut mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga bukan hanya berkaitan dengan pemahaman dan pengertian tetapi juga komitmen dan pembuktian tentang yang apa yang sudah dipelajari dengan baik;
  • Setiap mahasiswa atau kelompok dapat membuat video atau rekaman aktivitas yang berkaitan langsung dengan materi kuliah atau topik yang dipelajari atau isu-isu yang sedang trend dan kemudian itu dipublikasikan sebagai hasil karya yang yang diapresiasi secara positif oleh dosen dengan baik;
  • Mahasiswa diberikan kesempatan yang baik menjadi panitia atau penyelenggara dan bahkan menjadi pembicara dalam webinar secara virtual agar mahasiswa sudah dilatih menghadapi publik. Dalam hal ini dosen memberikan bimbingan dan arahan sesuai dengan kebijakan pendidikan dan etika berkomunikasi dalam penyajian topik-topik webinar yang dibutuhkan masyarakat atau kelompok tertentu;
  • Mahasiswa menjadi agen transformasi atau influencer bagi kaum milenial yang lain dengan cara mereka mengomunikasikan gagasan dan sikap serta hasil karya mereka ke publik baik secara nasional dan juga internasional.

Peluang tersebut dapat diterapkan secara bertahap dan berkelanjutan di setiap matakuliah. Tujuan dari penerapan enam contoh belajar menyenangkan itu agar setiap mahasiswa mencapai yang diharapkan dari visi dan misi sebuah perguruan tinggi. Langkah-langkah praktis tersebut dapat ditambahkan, digantikan, dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya seturut dengan kemajuan peradaban bangsa di masa kini dan akan datang.

KESIMPULAN

Dengan demikian belajar yang menyenangkan itu berarti memberikan ruang dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk kreativitas mahasiswa secara potensial menjadi pembelajar yang transformatif, relevan dan berdampak secara positif bagi generasinya dan generasi yang akan datang di negeri ini. Dosen dan mahasiswa selalu bersinergi dan berkolaborasi sebagai pembelajar yang dinamis, terbuka dan produktif untuk menghasilkan peradaban bagi masyarakat dan bangsa ini.

Selamat berjuang di era digital pada masa pandemi Covid-19, wahai generasi milenial. Jangan lupa jati diri sebagai manusia yang memanusiakan sesama di dalam iman sejati kepada Sang Khalik. Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7) ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *