Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia Wilayah DKI Jakarta Gelar

Berita4 Views

infopers.com – Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia Wilayah DKI Jakarta menggelar Musyawarah Kerja Wilayah (MUSKERWIL) 2026 pada Sabtu–Minggu, 19–20 September 2026, di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah An-Nu’aimiyah, Jakarta

Mengusung tema “Pesantren Digital di Era Society 5.0”, MUSKERWIL 2026 menjadi momentum konsolidasi mahasiswa pesantren untuk merumuskan arah gerakan sekaligus program kerja yang responsif terhadap perkembangan zaman

Pesantren tidak hanya dituntut mempertahankan tradisi keilmuan dan nilai-nilai kepesantrenan, tetapi juga didorong untuk mengambil peran aktif dalam ekosistem digital yang semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat

Era Society 5.0 menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pesantren. Perkembangan kecerdasan buatan, teknologi informasi, ekonomi digital, hingga perubahan pola komunikasi masyarakat menuntut pesantren dan generasi mudanya memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan akar nilai serta identitas keislaman

Dalam konteks tersebut, mahasiswa pesantren memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara tradisi pesantren dan perkembangan teknologi. Mereka diharapkan mampu melahirkan gagasan terkait digitalisasi pendidikan pesantren, penguatan literasi digital santri, pengembangan ekonomi digital pesantren, serta pemanfaatan teknologi sebagai sarana dakwah dan pengabdian kepada masyarakat

MUSKERWIL 2026 juga diarahkan menjadi ruang untuk menyusun peta jalan gerakan mahasiswa pesantren di Jakarta agar semakin responsif terhadap berbagai persoalan pendidikan, teknologi, kepemudaan, dan masyarakat

Digitalisasi pesantren tidak semata-mata dipahami sebagai penggunaan perangkat teknologi. Lebih dari itu, transformasi digital diarahkan pada bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas manfaat, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat dakwah, serta memperbesar kontribusi pesantren di tengah masyarakat

“Pesantren harus mampu hadir di tengah perubahan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya. Digitalisasi bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi menjadikan tradisi dan nilai-nilai pesantren memiliki daya jangkau yang lebih luas di tengah masyarakat digital.”

Baca Juga  Pedagang UMKM Bakso Tumpeng Sambut Baik Gelaran World Surf League 2023

MUSKERWIL 2026 sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara mahasiswa pesantren, lembaga pendidikan, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat dalam membangun ekosistem pesantren yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing.

 

Melalui forum tersebut, Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia Wilayah DKI Jakarta mendorong agar pesantren tidak hanya menjadi penonton dalam arus transformasi digital, tetapi turut menjadi bagian dari aktor yang berkontribusi dalam menentukan arah perubahan

MUSKERWIL 2026: Dari Pesantren, Merawat Tradisi; Dengan Teknologi, Menjemput Masa Depan.

Related Posts

Baca Juga :