“Saya Pernah Makan Nasi Jagung…” — I Wayan Koster Bikin Siswa Terdiam, Lalu Kucurkan Bantuan: Negara Tak Boleh Tinggalkan Rakyat Kecil

Berita, Nasional1539 Views

Bali, Infopers.com — Suasana yang awalnya riuh oleh suara anak-anak sekolah dasar di Desa Sembiran mendadak hening. Bukan karena takut, tapi karena tersentuh.

Di hadapan mereka, I Wayan Koster tidak berbicara sebagai pejabat. Ia berbicara sebagai seseorang yang pernah merasakan hidup dalam keterbatasan.

Pengakuan yang Menggetarkan: Dari Lantai Tanah dan Makan Seadanya

Dengan nada suara yang sederhana namun dalam, ia membuka kisah hidupnya: “Dulu saya sekolah, rumah saya lantainya tanah… makan pun seadanya. Pernah makan nasi jagung, nasi kladi… bukan seperti sekarang.”

Kalimat itu membuat banyak siswa terdiam.

Bagi sebagian dari mereka, cerita itu terasa dekat—bahkan mungkin masih mereka rasakan hari ini.

Namun dari kisah itu, lahir satu pesan besar: keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Bukan Sekadar Cerita: 66 Anak Langsung Dibantu

Tak berhenti pada cerita, I Wayan Koster langsung menunjukkan aksi nyata.

Sebanyak 66 siswa menerima bantuan masing-masing Rp1 juta.

“Ini untuk beli buku, tas, baju sekolah. Jangan dipakai yang lain. Ini untuk masa depan kalian,” pesannya tegas.

Bagi sebagian keluarga, bantuan itu bukan sekadar uang—melainkan harapan yang selama ini terasa jauh.

Sekolah Rusak, Kini Dibangkitkan Kembali

Koster juga mengingat kembali kunjungannya sebelumnya, saat kondisi sekolah tersebut masih rusak dan tidak layak digunakan.

Bangunan yang semestinya menjadi tempat belajar, justru menyimpan keterbatasan.

Kini, pemerintah provinsi hadir dengan langkah konkret: Rp129 juta digelontorkan untuk memperbaiki fasilitas sekolah, mulai dari ruang belajar hingga sarana penunjang pendidikan.

Negara Harus Hadir Sebelum Rakyat Putus Harapan

Dalam penyampaiannya, I Wayan Koster menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh tinggal diam melihat kondisi masyarakat.

Dana gotong royong yang dimiliki pemerintah provinsi, menurutnya, harus digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

Baca Juga  Niat People Power Nanti ada Rencana Skenario Gulingkan Presiden Jokowi, Ini Penjelasan Haidar Alwi 

“Kalau ada yang tidak layak, kita bantu. Jangan sampai anak-anak belajar dalam kondisi yang tidak pantas,” tegasnya.

Lebih dari Sekadar Bantuan: Ini Tentang Masa Depan

Apa yang terjadi hari itu bukan sekadar penyaluran bantuan. Itu adalah pertemuan antara masa lalu dan masa depan. Antara seorang pemimpin yang pernah merasakan kesulitan, dengan anak-anak yang sedang berjuang meraih mimpi.

Dari Desa Kecil, Pesan Besar untuk Indonesia

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan, kisah ini menjadi pengingat sederhana namun kuat: bahwa kemajuan tidak diukur dari gedung tinggi, tetapi dari seberapa jauh negara hadir untuk rakyat kecilnya.

Dari lantai tanah…

dari nasi jagung…

hingga bantuan nyata hari ini—sebuah pesan menggema dari Bali untuk Indonesia: “Jangan biarkan anak-anak bermimpi sendirian.” (Red/Tim)