Pameran “Arsir Garis” Angkat Kearifan Arsitektur Baduy Luar Lewat Riset Lapangan

Berita356 Views

Infopers.com – Arsitektur tradisional masyarakat Baduy Luar bukan sekadar wujud fisik bangunan, melainkan cerminan filosofi hidup, tata nilai, dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Kekayaan makna tersebut dihadirkan melalui Pameran Sketsa “Arsir Garis: Dokumentasi Arsitektur Vernakular Kadu Ketug Baduy Luar, Banten” yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Banten melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan di City Gallery Tangerang Selatan, Jumat (24/7/2026).

Pameran ini merupakan proses dari riset lapangan yang dilakukan di Kampung Kadu Ketug, Baduy Luar, Kabupaten Lebak, Banten. Hasil observasi kemudian diterjemahkan menjadi karya-karya sketsa sebagai bentuk dokumentasi visual sekaligus media edukasi yang memperkenalkan kekayaan arsitektur vernakular kepada masyarakat luas.

Kurator Pameran, Himi Fabeta menyampaikan pameran ini penting karena melakukan kerja kerja pendokumenrasian melalui sketsa dan keilmuan arsitektur, tentang bangunan vernakular di Baduy Luar, yang memang selama ini arsipnya hanya dari budaya tutur.

 

“Kegiatan ini menjadi jembatan penting untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya Nusantara kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui pendekatan visual dalam hal ini melalui drawing, drawing dipilih karena kemampuannya merekam detail dan menghadirkan goresan perasaan, itulah ciri khas pendokumentasian arsitektur vernakular,” ujarnya.

 

Inisiator pameran yang juga dosen Arsitektur Pradita, Marchelia Gupita Sari, S.T., M.Arch., menjelaskan pameran ini dirancang bukan hanya sebagai ruang apresiasi seni, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mengajak masyarakat memahami filosofi kehidupan masyarakat Baduy melalui arsitektur yang mereka bangun dan lestarikan hingga kini.

 

“Arsitektur Baduy bukan sekadar rumah atau bangunan. Di dalamnya terdapat nilai kehidupan, tata ruang, hubungan sosial, hingga penghormatan terhadap alam. Melalui pameran ini kami ingin menghadirkan pengalaman yang membuat masyarakat tidak hanya melihat bentuk fisiknya, tetapi juga memahami nilai yang melatarbelakanginya,” kata Marchelia.

Baca Juga  Febrie, Praperadilan, dan Pertanyaan yang Belum Terjawab: Dari Mana Uang dan Emas Itu Berasal?

Menurutnya, proses dokumentasi dilakukan secara langsung dengan tinggal bersama masyarakat Baduy selama tiga hari dua malam. Pendekatan tersebut dipilih agar tim peneliti mampu memahami kehidupan masyarakat secara utuh sebelum menerjemahkannya ke dalam karya sketsa.

“Sketsa menjadi cara kami membaca ruang dan merekam pengalaman. Setiap garis lahir dari proses pengamatan, dialog, dan interaksi dengan masyarakat. Karena itu, karya yang ditampilkan bukan sekadar ilustrasi, melainkan hasil interpretasi dari sebuah perjalanan riset kebudayaan,” tambahnya.

Penyelenggaraan kegiatan ini didukung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan yang memfasilitasi penggunaan City Gallery sebagai ruang publik untuk memperkenalkan hasil riset kebudayaan kepada masyarakat.

Selain menghadirkan puluhan karya sketsa hasil dokumentasi lapangan, pameran juga diisi dengan presentasi hasil penelitian, pertunjukan Happening Art, diskusi akademik, serta sesi berbagi pengalaman bersama masyarakat Baduy.

Arsitek Adriyan Kusuma, S.T., M.Arch., IAI., yang menjadi salah satu narasumber, menilai arsitektur vernakular Baduy menyimpan banyak pelajaran mengenai pembangunan yang berkelanjutan.

“Kearifan lokal dalam arsitektur Baduy menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep modern. Masyarakat Baduy telah mempraktikkannya sejak lama melalui pemanfaatan material lokal, penyesuaian terhadap kondisi alam, serta pola pembangunan yang menghormati lingkungan. Nilai-nilai tersebut layak menjadi inspirasi bagi praktik arsitektur masa depan,” ujarnya.

Dalam pameean ini juga dihadirkan ketua pemuda Desa Kadu Ketug, Kang Jamal. Dalam sesi diskusi, ia berbagi pandangan mengenai makna rumah, ruang hidup, serta nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.

“Rumah bagi masyarakat Baduy bukan hanya tempat berteduh, tetapi bagian dari amanah leluhur yang harus dijaga. Cara kami membangun selalu mengikuti aturan adat dan menjaga keseimbangan dengan alam. Itu yang terus kami pertahankan hingga sekarang,” tutur Kang Jamal.

Baca Juga  Stafsus Menag Gugun Gumilar Dorong Ekoteologi dan Kurikulum Cinta Perkuat Kerukunan Umat di Sumbar

Melalui pameran “Arsir Garis”, Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Banten berharap hasil penelitian kebudayaan dapat menjangkau masyarakat lebih luas sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya Indonesia.

Lebih dari itu, kegiatan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, praktisi, komunitas, dan masyarakat adat. Melalui kolaborasi tersebut, nilai-nilai kearifan lokal Baduy Luar diharapkan terus hidup, dipahami, serta diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya bangsa Indonesia.