Infopers.com – Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. H. Gugun Gumilar, mendorong mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram untuk berani memiliki cita-cita besar, memperjuangkan pendidikan, serta mempersiapkan diri menghadapi persaingan global.
Dalam kesempatan tersebut, Gugun juga menyebut Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya sebagai salah satu role model kepemimpinan bagi generasi muda Indonesia.
“Seskab Teddy menjadi role model kepemimpinan anak-anak muda Indonesia. Dia punya leadership, kecerdasan, intelektualitas, dan integritas. Insya Allah, kita doakan beliau menjadi pemimpin Indonesia ke depan,” ujar Gugun.
Gugun menegaskan, mahasiswa tidak boleh membatasi diri hanya berdasarkan kondisi yang dihadapi saat ini. Menurutnya, generasi muda harus berani bermimpi, memiliki cita-cita tinggi, sekaligus membangun kapasitas diri agar mampu mewujudkan cita-cita dan mengambil peran di tingkat nasional maupun global.
“Adik-adik harus berani bermimpi, berani punya cita-cita besar, dan yang paling penting berani memperjuangkannya. Pendidikan adalah salah satu jalan untuk mempersiapkan diri agar mampu bersaing, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat global,” katanya.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia atau human capital yang unggul di tengah perubahan dunia yang berlangsung semakin cepat.
Menurut Gugun, persaingan global ke depan tidak semata-mata ditentukan oleh penguasaan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia, kemampuan berpikir kritis, karakter, kreativitas, kepemimpinan, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
“Kita sedang menghadapi talent war. Negara-negara di dunia berlomba-lomba menciptakan dan mendapatkan talenta terbaik. Karena itu, kampus harus mampu mempersiapkan human capital yang unggul, berkarakter, adaptif, dan memiliki daya saing global,” ujarnya.
Selain penguatan kapasitas akademik dan keterampilan, Gugun berharap perguruan tinggi keagamaan terus menjadi motor penggerak literasi dan penguatan moderasi beragama.
Hal tersebut, menurutnya, dapat diwujudkan melalui pengembangan riset, pengabdian kepada masyarakat, pelatihan, serta integrasi nilai-nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran dan kehidupan akademik.
Gugun menilai perguruan tinggi keagamaan memiliki posisi penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga mampu memahami keberagaman, membangun dialog, menjaga persatuan, dan menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
“Kampus jangan hanya menjadi tempat untuk mendapatkan ijazah. Kampus harus menjadi ruang untuk membangun cara berpikir, memperluas wawasan, mengasah kemampuan, dan melahirkan generasi yang mampu membawa perubahan,” pungkasnya. (Yan)






