eFishery Meluncurkan Produk Baru ‘Mas Ahya’ (Ahli Budidaya), Solusi Konsultasi Berbasis AI

Jakarta,Infoprrs.com –  eFishery, perusahaan teknologi akuakultur asal Indonesia, terus membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan potensi akuakultur. Salah satunya adalah dengan menggandeng pemerintah, yang merupakan partner strategis dalam memajukan industri akuakultur.  eFishery dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui Direktorat Ekonomi Digital (DED) bersinergi mendorong penguatan teknologi untuk para pembudidaya ikan di Indonesia.
eFishery  kali ini meluncurkan produk baru yang dikembangkan oleh tim AIoT eFishery, ‘Mas Ahya’ (Ahli Budidaya), solusi konsultasi berbasis AI yang dirancang khusus untuk membantu pembudidaya ikan dan petambak udang meningkatkan efisiensi operasional dan mencapai keberlanjutan yang lebih baik.

Inovasi baru ini bertujuan untuk mendukung kemajuan industri akuakultur Indonesia dan membantu para pembudidaya mengatasi tantangan tersebut dan mencapai potensi secara berkelanjutan. Industri akuakultur Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi sumber protein utama bagi dunia.

Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, potensi total nilai produksi akuakultur Indonesia mencapai US$12 miliar, dengan total kolam sebanyak 6,5 juta dan 2,5 juta pembudidaya ikan. Namun, industri ini masih dihadapkan dengan berbagai tantangan, seperti akses yang terbatas terhadap benih berkualitas, pakan, listrik, dan model pembiayaan yang fleksibel. Selain itu, para pembudidaya juga harus bergulat dengan penyakit, cuaca buruk, kualitas air yang buruk, dan harga yang tidak stabil.

Dengan Hadirnya ‘Mas Ahya‘ diharapkan membantu para pembudidaya di Indonesia mencapai kesuksesan dan berkontribusi pada ketahanan pangan global. Kami yakin bahwa ‘Mas Ahya’ akan memberikan dampak yang signifikan, tidak hanya dalam hal peningkatan produktivitas, tetapi juga dalam mendorong praktik akuakultur yang lebih berkelanjutan,” ujar Chrisna Aditya, Chief Product Officer eFishery, dalam konferensi pers di  Kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan , Kamis (13/6/2024).
Hingga tahun 2023, eFishery telah menjadi pemasok ikan dan udang terbesar dengan total transaksi melebihi S$ 200 juta dan total volume ikan serta udang mencapai 300.000 ton.
Chrisna juga menjelaskan tentang program Kabayan (Kasih Bayar Nanti) yang memberikan akses mudah dan aman bagi pembudidaya ke institusi finansial yang terdaftar dan diawasi oleh OJK, untuk pembelian pakan yang dapat dibayar setelah panen.
Selain dari pada itu startup teknologi aquakultur, eFishery, menargetkan dapat melakukan rehabilitasi dan penanaman mangrove sebanyak 100 ribu hektare hingga tahun 2030. Lombok menjadi pilot project eFishery dalam penanaman dan rehabilitasi lahan mangrove di Indonesia.

Baca Juga  Ketua Umum BRINUS Berharap KADER BRINUS Berjuang untuk Masyarakat sebagai LEGESLATIF pada PEMILU 2024-2029

Kedepan, ada 100 ribu hektare (penanaman mangrove) sampai dengan 2030.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *